PJ Bupati PALI, H Rosidin Hasan Kunjungi Cagar Budaya Bumi Ayu Tanah Abang

PALI, PUBLIKZONE --- Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), H Rosidin Hasan melakukan kunjungan ke situs Cagar Budaya Bumi Ayu yang berada di Desa Bumi Ayu Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI, Senin (29/03/2021).

Dalam kegitan tersebut, H Rosidin Hasan berjanji akan mendorong pembangunan peningkatan infrastruktur serta fasilitas umum di kawasan situs bersejarah tersebut. Menurutnya Candi Bumi Ayu kelak menjadi ikon Kabupaten PALI.

"Jika fasilitas lengkap dan menunjang, mudah-mudahan pengunjung meningkat. Dengan itu maka ekonomi masyarakat sekitar juga ikut meningkat," terang PJ Bupati PALI.

Rosidin menuturkan, Potensi kawasan Candi Bumi Ayu cukup eksotis dan bisa menjadi objek wisata andalan di Kabupaten PALI. 

"Saya minta kepada OPD dalam hal ini dapat bahu membahu dalam membangun kawasan cagar budaya Candi Bumi Ayu", pungkasnya.

Diketahui, Candi Bumiayu adalah satu-satunya cagar budaya candi yang dimiliki Provinsi Sumatera Selatan. Terletak di tengah perkampungan Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), atau di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Lematang.

Keberadaan situs candi ini memiliki total lahan seluas sekitar 110 hektar (ha). Dimana 75 hektar diantaranya masuk sebagai kawasan candi, dan baru sekitar 7,6 hektar diantaranya sudah dibebaskan lahannya oleh pemerintah.


Candi Bumiayu mulai diakui keberadaannya setelah dilaporkan pertama kali oleh E P Tombrink, pada tahun 1864 silam dalam Hindoe Monumenten in de Bovenlanden van Palembang.

Candi Bumiayu termasuk jenis candi unik karena mempunyai bentuk sudut bangunan dengan hiasan mahluk Ghana dari terakota, dan memiliki kemuncak bangunan berbentuk seperti lingga, antefiks, serta sebuah arca tanpa kepala. Kemudian letaknya yang strategis dikelilingi tiga batang hari atau sungai, yakni batang hari tebat jambu, lubuk panjang, dan piabung (tebat siku) menjadikan kawasan cagar budaya Candi Bumiayu sebagai pusat perdagangan dan transportasi pada masa Kerajaan Sriwijaya masih berkuasa.


Dari 11 bangunan candi yang ditemukan, 5 diantaranya telah digali dan dipugar ke permukaan tanah. Kelima reruntuhan bangunan candi berstruktur bata itu sesuai urutan pemugarannya dinamakan Candi 1 (tahun 1992), Candi 2 (tahun 2009), Candi 3 (tahun 1997), Candi 7 (tahun 2009), dan Candi 8 (tahun 2000).

Sementaranya sisanya sampai saat ini masih berada tertimbun di dalam tanah. Factor keterbatasan tenaga ahli, dan peralatan masih menjadi kendala tertundanya penggalian bangunan candi yang diperkirakan telah ada pada abad ke 7-14 masehi di “Bumi Serepat Serasan” tersebut.


Dengan keunikan dan banyaknya benda arkeolog seperti arca atau patung-patung, dan benda-benda purbakala yang banyak tak dimiliki oleh situs cagar budaya candi lainnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi situs cagar budaya Candi Bumiayu.

Diantaranya seperti Arca Siwa, Arca Dewa 1 dan Arca Dewa 2, Arca Agastya, Relief bergambar Burung Kakak Tua, Peripih Nawasanga yang merupakan wadah benda persembahan untuk memuja dewa tertentu, serta Kepala Kala yang ditemukan di Candi nomor 8 yang cuma ada di Candi Bumiayu.

Kemudian Arca Singa, Arca Camundi, Arca Nandi, Arca Stambha, serta patung Lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa, yang dalam Agama Hindu berbentuk alat kelamin laki-laki, dan Yoni sebagai perlambangan alat kelamin wanita sebagai perwujudan Shakti dan dewi.

lokasi Cagar Budaya Candi Bumiayu masih dikunjungi dan dijadikan tempat ritual ibadah dharma bhakti setiap Hari Raya Nyepi oleh sebagian masyarakat perantau asal Bali. (ADV/HUMAS)

Posting Komentar

0 Komentar